i love you papua...
Tidak pernah terbayangkan sebelumnya bahwa saya akan berdiri di dalam ruangan kelas dan berhadapan dengan siswa-siswa SMA. Setahun yang lalu saya masih berada di suatu ruangan kantor seluas 10X5m di tengah hutan kota Kuala Kencana yang modern, tepatnya di Timika Papua. Kota kecil dimana bermacam-macam suku di Indonesia berkumpul termasuk orang asing dari berbagai negara. Awalnya saya mencintai pekerjaan saya, saya banyak belajar dari perusahaan tersebut. Tempat pertama kali dimana saya belajar menggunakan email, belajar excel, membuat invoice dan banyak pekerjaan kantor lainnya. Namun, melakukan pekerjaan yang sama setiap harinya selama 3 tahun ternyata mulai menjenuhkan. Saya mulai memikirkan masa depan saya, apakah saya akan menghabiskan tahun-tahun saya di tempat yang sama tanpa ada kemajuan yang berarti. Saya mulai memikirkan passion yang ada sejak masih duduk di bangku kuliah, melayani orang lain. Saya mulai membangun tekad untuk mencari masa depan yang lain. Entahlah mungkin campur tangan Tuhan membawa saya lulus menjadi peserta English Language Training Assistance (ELTA) yang merupakan bantuan Ausaid dan Pemda Papua walaupun hanya sebagai peserta cadangan yang menggantikan peserta yang mengundurkan diri. Akhirnya setelah mendapat ijin dari atasan saya, saya berangkat ke Bali.Tiga bulan kami mulai belajar bahasa inggris secara intensif. Banyak pengalaman yang dapat saya ambil selama bergabung dengan 29 peserta lainnya. Mereka adalah orang-orang pandai yang terpilih dan saya merasa bangga bisa menjadi bagian dari mereka. Akhirnya setelah kembali ke pekerjaan saya, saya memutuskan untuk resign dan berangkat ke Jayapura. Walaupun saya tahu bahwa untuk mendapatkan pekerjaan yang baru bukanlah hal yang mudah. Namun, sekali lagi Tuhan membuka jalan, sebulan setelah resign teman kuliah yang bekerja sambilan sebagai guru honor di SMA menawarkan posisinya untuk kuisi. Awalnya saya tidak yakin apakah saya bisa menjadi guru SMA. Namun, dalam pikiran saya saat itu, tidak ada salahnya untuk mencoba bukankah jika kita tidak mencoba maka kita tidak akan tahu sejauh mana kemampuan kita. Akhirnya, hampir tujuh bulan sudah saya menjadi guru di SMA ini dan apa yang selama ini saya kuatirkan tidaklah serumit yang saya bayangkan sebelumnya. Anak-anak SMA tempat dimana saya mengajar sangat menghormati guru-gurunya walaupun terkadang sifat remaja mereka sering menyulitkan dalam proses belajar mengajar. Namun, semua itu membuat hidup menjadi lebih berwarna.