Tim Sakti Peksos Kampung Witi bersama Bapak Ondoafi dan istri
Disini saya akan menceritakan pengalaman kami sebagai pendamping masyarakat di suatu Kampung terpencil di tengah hutan Papua, tepatnya di Kampung Witi, Distrik Kaureh Kabupaten Jayapura.
Kegiatan pendampingan ini merupakan suatu program dari Kementerian Sosial dalam rangka pemerataan pembangunan di seluruh wilayah Indonesia. Untuk setiap Kampung ditempatkan satu tim yang terdiri dari empat orang laki-laki dan dua orang perempuan.
Untuk mencapai Kampung Witi, kami harus naik bis tujuan Lereh dari pasar Sentani. Perjalanan bis akan memakan waktu kurang lebih 7 jam. Ketika melalui jalan menuju Genyem, kami disuguhi pemandangan Danau Sentani yang sangat indah. Hamparan pulau-pulau kecil yang hijau di sekitar danau serta udarah yang bersih membuat perjalanan menjadi menyenangkan. Namun, setelah itu perjalanan akan melalui jalan yang berkelok-kelok yang dapat membuat kepala jadi pusing dan mual.
Setelah dua jam perjalanan, bis yang kami tumpangi singgah di Nimbokrang, kami pun turun untuk makan siang. Setelah itu, perjalanan kembali dilanjutkan. Kondisi jalanan belum seluruhnya diaspal. Ada banyak jalan yang berbatu bahkan ada yang tidak dapat dilewati oleh kendaraan ketika hujan deras. Namun, beruntung cuaca sedang bersahabat sehingga kami tidak mengalami kendala yang begitu berarti.
Beberapa distrik akan dilewati seperti distrik Yapsi, Taja dan Lereh kurang lebih ada sekitar Sembilan jembatan yang akan dilewati nantinya. Untuk daerah Taja, ada banyak warga yang berasal dari luar Papua yang tinggal dan berjualan sehingga kondisinya lebih maju jika dibandingkan dengan daerah sekitarnya.
Setelah melewati Taja, kami harus melewati Kali Nawa. Jika hujan deras, sungai ini tidak dapat dilewati karena banjir. Akibatnya, penumpang yang ingin lewat harus bermalam menunggu banjir redah. Saat ini jembatan utama masih dalam proses pembangunan sehingga untuk sementara harus menggunakan jembatan darurat.
Jembatan Kali Nawa dalam proses pembangunan. Banjir mengakibatkan jembatan alternatif hanyut sehingga tidak bisa dilewati kendaraan.
Perjalanan kembali dilanjutkan. Beberapa jam lagi bis kami akan tiba di pos “Selamat Datang “milik perkebunan kelapa sawit Sinar Mas II. Setelah melewati pos, kami mulai memasuki perkebunan sawit yang sangat luas. Tidak lama kemudian kami turun di Juk, suatu lokasi pemukiman karyawan Sinar Mas II.
Untuk menuju Kampung Witi, kami harus numpang di truk pengangkut kelapa sawit. Perjalanan memakan waktu sekitar satu setengah jam untuk sampai di C1. C1 adalah nama lokasi yang harus dilalui jika akan masuk atau keluar Kampung Witi.
Tim Sakti Peksos dan warga yang ingin menumpang truk pengangkut kelapa sawit
Selanjutnya, untuk mencapai Kampung Witi, kami harus melewati jalan yang berbentuk rel kayu. Perjalanan ini akan ditempuh selama kurang lebih dua jam. Setelah berjalan sekitar setengah jam, kami harus melewati jembatan gantung yang bergoyang yang juga berbentuk rel kayu. Di bawah jembatan tersebut terdapat sungai yang berarus cukup deras. Untuk itu, dibutuhkan keberanian untuk melewati sungai tersebut.
Jembatan gantung menuju Kampung Witi
Tantangan tersulit sudah dilalui. Selanjutnya kami akan berjalan kaki melewati rel kayu di tengah hutan belantara. Kurang lebih satu jam atau lebih untuk bisa tiba di Kampung Witi.
Melewati hutan belantara menuju Kampung Witi
Bersama anak-anak Kampung Witi
Akhirnya, tibalah kami di Kampung Witi, dan segera menuju ke basecamp Sakti Peksos.
Potret Komunitas Adat Terpencil Kampung Witi, Distrik Kaureh, Kabupaten Jayapura
Kampung Witi terdiri dari 15 rumah tinggal, dengan jumlah kurang lebih 20 Kepala Keluarga, 1 Balai Pertemuan , 1 Gereja lama dan 1 Gereja Baru yang masih dalam proses penyelesaian. Adapun beberapa hal yang masih kurang di Kampung Witi, yaitu belum adanya sekolah ataupun Puskesmas Pembantu (Pustu), belum ada sumber air bersih sehingga masyarakat hanya mengandalkan air hujan,serta belum ada listrik atau penerangan yang akan membatasi aktivitas masyarakat di malam hari.
Oleh karena itu, untuk sementara kami sebagai tim Sakti Peksos mengisi kebutuhan masyarakat seperti mengajar anak-anak yang belum bersekolah ataupun putus sekolah, serta bersama-sama dengan masyarakat merancang program pembangunan masyarakat untuk kemajuan Kampung Witi.