Tuesday, September 30, 2014

Anak-Anak Kampung Witi Dalam Perayaan HUT RI ke-69

Semarak perayaan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia ke-69 tidak hanya dirasakan masyarakat di perkotaan. Kampung Witi yang berada di tengah hutan pedalaman Papua pun tidak ketinggalan dalam merayakan hari kemerdekaan tersebut. Keterbatasan bukanlah halangan bagi anak-anak Kampung Witi dalam menyemarakkan HUT RI ke-69 ini. Kondisi yang jauh dari keramaian tidak mengurangi semangat mereka dalam berpartisipasi. Berikut adalah suasana perlombaan hari kemerdekaan yang diadakan oleh tim Sakti Peksos Kampung Witi bagi anak-anak setempat.



Perlombaan makan kerupuk bagi semua anak Kampung Witi

Betapa senangnya anak-anak ini mengikuti perlombaan makan kerupuk. Mengingat di kampung mereka tidak ada tempat untuk transaksi jual beli sehingga kerupuk adalah salah satu snack yang tergolong mewah bagi mereka. 

Selain lomba makan kerupuk, tim Sakti Peksos juga mengadakan lomba gigit sendok dengan kelereng serta lomba balap ban sepeda.







Lomba gigit sendok dengan kelereng berdasarkan kelompok umur


Hadiah dari perlombaan ini sangat sederhana oleh karena keterbatasan dana dari tim Sakti Peksos. Semua ini berasal dari uang pribadi teman-teman Sakti Peksos sehingga kami hanya sanggup memberi hadiah berupa choki-choki dan permen bagi semua adik-adik di kampung Witi  :).  Walaupun begitu, anak-anak Witi ini menerima hadiah tersebut dengan wajah sumringah dan senang hati.



                                                            Lomba balap ban sepeda di kompleks Kampung Witi

 


Setelah seharian bermain, kami memanggil anak-anak tersebut untuk makan bersama. Sekali lagi menu yang kami sajikan sangat sederhana yaitu indomie goreng. Namun, wajah antusias anak-anak tersebut seolah-olah menggambarkan kami sedang menyajikan ayam goreng KFC :)

 

Makan bersama dalam rangka menjalin kebersamaan diantara anak-anak








Alasan kami menggunakan daun pisang sebagai alas makan adalah selain menjalin rasa kebersamaan, Kampung Witi juga belum memiliki sumber air bersih sehingga menggunakan daun pisang merupakan plihan yang paling tepat.

Sekian cerita dari anak-anak Kampung Witi, Komunitas Adat Terpencil yang rindu untuk bersekolah sehingga kelak dapat memberikan kontribusi bagi kampung mereka bahkan untuk Papua dan Indonesia.


No comments:

Post a Comment